Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Coass Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coass Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

Coas Life: Semuanya dariMu, Semuanya untukMu, Pujian Syukurku Tuhan kusrahkan padaMu

Tuhan, aku percaya. Semua yang kualami, saat ini, masalahku, keluh kesahku, air mataku, semuanya ya, Tuhan, Kau melihat dan peduli.

Tuhan. Aku sedang merasa hancur. Segala usaha yang kulakukan, gagal ya Tuhan.

Kata-kata tidak progres dan tidak lulus membayangiku dan membuatku jatuh dan sedih.

Kini aku berserah ya Tuhan.
Baik progres dan tidak progres.
Baik lulus dan tidak lulus.
Kau tetaplah Allah kami yang dahsyat. Kau tetaplah Allah kami yang ajaib, yang mengetahui segala perkara dan pergumulan kami.

Satu pintaku Tuhan, kiranya kuatkanlah aku beserta keluargaku sampai masa bahagia itu akan tiba. Jagalah hati dan pikiran kami agar tetap setia padaMu ya Allah kami yang hidup.

Biarlah aku menangis, biarlah aku jatuh. Tapi untuk kali ini saja. Tapi untuk hari ini saja. Besok adalah haru yang baru lagi. Besok adalah kesempatan yang baru lagi, dan aku harus lebih semangat dan setia mengerjakan.


Filipi 4:13 (TB)  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Senin, 07 Maret 2016

Coass Life: Pasien Kompre Pedodontia

Pedo artinya anak, pedodontia artinya ilmu kedokteran gigi anak. Jadi minreq kompre pedodontia adalah pasien anak yang wajib dirawat seluruh kelainan dalam rongga mulutnya.

Nah ini adalah foto sebelum dan sesudah pasien saya:



Setiap orang punya kesulitan masing-masing, keberuntungan masing-masing, dan berusaha dengan caranya masing-masing.

Dan buat saya, luar biasa sekali bisa menyelesaikan pasien kompre seperti ini.

Pasien anak laki-laki berusia 7 tahun, dengan keadaan hampir seluruh giginya mengalami karies dan tinggal radiks.

Pada kunjungan pertama saya melakukan pemeriksaan berupa anamnesa, pemeriksaan subjektif, pemeriksaan objektif, dan foto ronsen untuk gigi yang berlubang, serta pencetakan rahang atas dan rahang bawah setelah ditentukan diagnosa dan rencana perawatan. Pembacaan hasil foto ronsen dilakukan untuk melihat kedalaman karies, keadaan akar, serta pembentukan dan posisi benih gigi permanen. Pada kasus ini ada tiga gigi yang karies mencapai pulpa, dua gigi direncanakan dilakukan pulpotomi vital dan pulpotomi non vital, satu gigi lagi pada awalnya didiagnosa direncanakan untuk pulpektomi, namun karna pada jalannya perwatan gigi goyang, perawatan yang dilakukan adalah ekso atau pencabutan. Untuk semua gigi yang dilakukan perawatan dilakukan restorasi akhir berupa ssc atau stainless steel crown.

Pada kunjungan pertama saya hanya melakukan pemeriksaan dengan tujuan untuk mengenalkan anak pada keadaan ruang praktek, supaya pasien merasa nyaman dan percaya dengan dokter, sehingga pasien dapat menerima perawatan dengan baik.

Pada kunjungan berikutnya saya melakukan penambalan gigi dengan bahan restorasi gic, dengan pertimbangan untuk mengenalkan pasien pada proses perawatan gigi, namun dengan waktu yang singkat.

Pada kunjungan ketiga, saya melakukan pencabutan pada radiks yang sebenarnya sudah mobiliti,  namun tetap saya lakukan anestesi, walau jujur tidak sampai menyentuh tulang, dengan tujuan supaya pasien tau bagaimana proses anestesi dan tidak takut dengan spuit atau karpul atau jarum suntik.

Nah, setelah itu, baru perawatan pulpotomi dan ekso atau pendidikan gigi yang masih berupa elemen dapat dilakukan, karena pasien tidak akan setakut pertama kali dilakukan perawatan.

Total perawatan yang saya lakukan pada anak tersebut ialah pulpotomi vital dan pulpotomi non vital dengan restorasi akhir berupa stainless steel crown, penambalan gigi dengan amalgam filling, gic filling, dan preventive resin restoration, serta  space maintainer dengan pertimbangan gigi susu telah dicabut karena berupa radiks(akar) atau sudah mobiliti(goyang).



Seperti yang bisa dilihat pada foto, ada dua gigi dengan karies namun tidak saya lakukan tindakan dengan pertimbangan usia pasien 7 tahun dan umumnya pada umur tersebut gigi permanen akan tumbuh, dan diharapkan gigi dapat menjadi space maintainer alami sehingga gigi permanen dapat tumbuh pada lengkungnya.

Demikianlah pengalaman tiga bulan saya di klinik pedodonsia rsgmp fkg usu, dan ohya. Masih ada kasus saya yang belum selesai, jadi tolong bantu saya dalam doa, supaya segera melewatkan department ini dengan baik.


God bless us.
God loves us.


Rabu, 20 Januari 2016

Coass Life : Pasien Pedo

‪#‎kisahpasienpedo
"Buka mulutnya dek"
"Aaaa, dek."
"Dek yang besarlah buka mulutnya, coba masuk gak dua jarimu ke mulutmu? Apa lagi jari kaka kan dek?"
"Dek... Dek, Aaa lah dek, buka mulutnya yang besar."
Alhasil si koas kesel, si pasien rupanya lebih kesal, lalu....
"Aaa!" Teriak pasien.
Si koas cuma bisa nyeletuk, "Dek,mulutnya yang dibuka lebar, bukan suaranya yang makin keras."
Lalu si koas jadi ketawa sendiri.
‪#‎koasgigi‬ ‪#‎koasgigimulaisinting‬ ‪#‎siapasuruhmasukfkg‬‪#‎sendirisusahsendirirasa‬


Senin, 04 Mei 2015

Minimal Requirement

Ah. Semua kasus minreq ini membuatku lelah.
Semua departemen yang harus kuulang ini membuatku ingin menyerah.
Kapan aku jadi drg?  Kapaaaaaannnn?

Aku merasa terhimpit melihat satu persatu teman-temanku lulus meninggalkanku. hikss..

Minggu, 03 Mei 2015

Kapalku Laju dan Tenggelam

Ketika kapalku mulai goyah dan mengikuti kemana angin membawaku.
Ketika kapalku mulai karam, dan aku membuang sebagian muatanku.
Ketika kapalku tidak melaju, dan aku membiarkan diriku menuruni kapalku dan mendorongnya sampai ke dataran.

Lalu apalagi gunanya kapal tanpa pengemudi?  Apa gunanya dia melaju bila tak dapat menyebrangkan barang bawaan?

Dan akhirnya kapalku tenggelam, seiring semakin tenggelamnya diriku bersama ombak yang menenggelamkanku.

Jumat, 20 Maret 2015

Coass Life: Koas Pedo

Ini kisah tentang anak koas yang menghadapi anak-anak.

Menghadapi anak-anak dengan segala keterbatasan dan segala keluarbiasaan mereka merupakan suatu hal yang unik.

Saya suka bicara dengan mereka, bermain,bercanda, atau sekedar mendengar celotehan mereka. Karena, hey, siapa sih yang belum pernah jadi anak-anak?

Setelah kita dewasa biasanya kita menyadari betapa berharganya masa itu,dan betapa berwarnanya imajinasi dan  hidup kita.

Tapi, entah mengapa anak-anak bisa berubah layaknya superhero yang dalam beberapa detik dapat berubah karena suatu keadaan:  perawatan gigi anak.

Sudah 8minggu saya berada di klinik gigi anak atau pedodonsia. Dan minimal requirement belum juga tepenuhi. Dari 6 anak yang saya Oral Diagnosa hanya 3 yang berhasil ditanda tangani dosen.

Sabtu, 29 November 2014

Coas Life: Hei Anak Koas!! Mari Berpikir Positif dan Menjadi Manusia yang Cerdas Emosional

Koas adaah suatu proses yang (seharusnya, dan semoga) menjadi tahap yang lebih singkat daripada perkuliahan. Tetapi tantangan dalam koas lebih berat, dan saya sadar setiap orang dibentuk ditempat ini.
Kamu bisa berakhir tragis, menjadi biasa-biasa aja, atau menjadi luar biasa.
Akan tetapi, setiap orang juga akan menilai berbeda tentang koas.
Ada yang begitu berambisi untuk menjadi cepat tamat, ada yang menjalaninya hanya sebagai rutinitas, ada yang menggapnya sebagai batu loncatan untuk menggapai gelar dokter gigi secepatnya, dan ada yang menganggapnya sebagai sebuah proses hidup yang berharga dan harus dijalani dengan cara yang berharga pula.

Dalam koas kita akan bertemu dengan sangat beragam tipe orang. Mulai dari berbagai sifat dosen, ada yang galak, ada yang pemarah, emosian, gampang sensi, ada yang seperti ibu peri, malaikat, atau juga yang bersikap seperti ibu sendiri, sebagai teman, sahabat, atau benar-benar pengajar, dan ada juga yang mungkin sebenarnya tidak tahu cara mengajar yang tepat, atau malah tidak ingin mengajar (sekali lagi, mungkin).
Kita juga akan bertemu dengan berbagai tipe teman koas, mulai dari yang sangat optimis, pesimis, pemalas, tidak pedulian, mudah marah, sensitif, penggosip, cuek, misterius, baik, tukang tipu, tukang pakai calo, si jarang masuk koas,  si perfeksionis, dan yang ingin cepat-cepat tamat.
Termasuk juga pasien, ada yang bawel, resek, curigaan, baik, pengertian, genit, gatel, suka ngasih makanan, suka mintain duit, php, atau yang kerajinan datang.

Dan, ada juga dirimu sendiri.
Bagaimana dirimu menyikapi semua ini?
Akankah dirimu menjadi orang yang akan menyerah di tengah perjalanan? Akankah kau mengganggap koas hanya seperti tempat persinggahan dalam hidupmu, sehingga melalaikan nilai-nilai dan norma yang benar?

Saya memilih menjalani koas ini dengan bermakna.
Di tengah ramainya calo, atau magang (walaupun blm punya str atau sip), dan kerja asal-asalan atau manipulasi, sejauh ini saya berusaha untuk tidak melakukan itu semua.
Dalam nama Tuhan Yesus, Dia akan memberikan saya pasien dan kesempatan untuk lulus tanpa memakai calo.
Dalam nama Tuhan Yesus, saya yakin keuangan saya akan tercukupi dan kemampuan atau skill saya tidak akan mengecewakan pasien saya nantinya meskipun saya tidak ikut-ikutan magang, dan skill saya selama di tempat koas akan mencukupi perbekalan saya dalam menghadapi dunia kerja nantinya.
Dan saya berjanji, akan melayani pasien saya dengan sebaik-baiknya. Saya akan berusaha, seburuk apapun hari yang telah kujalani, saya akan menyambut pasien saya dengan senyum sapa. Tidak hanya dengan tindakan medis, perilaku kita yang ramah dan sopan akan mengobati pasien secara tidak langsung.
Selama koas ini, saya belajar bukan hanya ilmu dan keterampilan, tetapi bagaimana menjadi dokter gigi yang benar-benar berintegritas dan memuaskan bagi pasien.

Minggu, 09 November 2014

Contoh Rencana Perawatan Kasus Gigi Tiruan Sebagian Lengkap berbasis Resin Akrilik

RENCANA PERAWATAN GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN

I. IDENTITAS PASIEN

Nomor Status :
Nama Pasien : S******
Umur : 61 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku/Bangsa : Jawa/WNI
Alamat : Jalan ************ Medan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. HP : *************

II. DIAGNOSIS PASIEN
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan umum’
c. Pemeriksaan lokal
d. Diagnosis

a. Anamnesis
    Pasien datang dengan keluhan ingin membuat gigi palsu atas dan bawah karena pasien telah kehilangan gigi belakang dan beberapa gigi depan, pasien mengeluhkan sulit untuk mengenyah. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, pasien mengatakan belum pernah memakai gigi tiruan.

b. Pemeriksaan Umum
1. Penyakit sistemik/penyakit infeksi : Hipertensi
2. Kebiasaan jelek : Tidak ada
3. Pernah memakai gigi tiruan :
    a. Rahang atas : tidak           b. Rahang bawah : tidak
4. Sikap mental pasien : Filosofis

c. Pemeriksaan Lokal
    1. Ekstra Oral
        a. Wajah Depan : Oval Samping : Cembung
        b. Bibir : Normal
        c. Mata : Tidak Bergerak
        d. Sendi temporo mandibular : Normal
    2. Intra Oral
        a. Status Gigi : Gigi yang masih ada 13 11 23 21 35 33 32 31 41 42 43 45
        b. Gigi yang hilang : Sebagian
        c. Kelainan gigi :  Mobiliti : Ada, gigi 31 dan 41
                                  Malposisi : Ada, gigi 33 linguoversi gigi 45 mesioversi
                                  Elongasi : Ada
                                  Diastema : Ada
        d. Oklusi (angle) : Klas.....
        e. Derajat karies : Rendah
        f. Oral higiene : Baik
        g. Mukosa linggir aveloaris : Atas kanan : Normal   Atas kiri : Normal   Bawah kanan : Normal                                                                Bawah kiri : Normal
        h. Linggir alveolaris : • Bentuk : - Mx. Ka: Tapering
                                                        - Mx. Ki: Ovoid
                                                        - Md. Ka: Knife edge
                                                        - Md. Ki: Knife edge
                                        • Lengkung : Trapesium
                                        • Relasi rahang : Normal
                                        • Ruang antar linggir : 5mm
                                        • Palatum : .......
                                        • Torus palatinus : Rendah
                                        • Posterior palatal seal : .........
                                        • Lidah : Sedang
                                        • Kondisi saliva : Kental
                                        • Dasar : Dalam

d. Diagnosis :
    RA : Klas I modifikasi 2 Kennedy
    RB : Klas I modifikasi 2 Kennedy


III. RENCANA PERAWATAN
a. Perawatan Persiapan
    • Tindakan Tanpa Bedah : Tidak perlu
    • Tindakan Bedah : Tidak perlu

b. Pencetakan Anatomis
     a. Tujuan : Untuk pembuatan sendok cetak fisiologis dan survey pendahuluan.

     b. Bahan : Hydrocolloid Irreversible (alginate)

     c. Bahan Pengisi : Dental stone tipe III

    d. Pemilihan sendok cetak :
 Menggunakan sendok cetak pabrik
 Bagian permukaan sendok cetak persegi
 Ukuran sendok cetak lebih besar 3-6 dibandingkan dengan linggir pasien.
 Sendok cetak RA harus mencakup Hamular Notch dan Vibrating line
 Sendok cetak RB harus mencakup Retromolar Pad dan Sulkus Aveolingual.

    e. Cara mencetak :
1. Dudukkan pasien di denta unit dengan posisi badan yang tegak
2. Pilih sendok cetak yang sesuai dengan pasien.
3. Aduk bahan cetak dengan perbandingan 1:1 (alginate:air), aduk sampai homogen.
4. Masukkan bahan cetak ke sendok cetak secukupnya.
Pada RA : operator berdiri di sebelah belakang kanan pasien.
Pada RB : operator berdiri di sebelah kanan depan pasien.
5. Masukkan sendok cetak ke mulut pasien, dan dilakukan penekanan pada daerah yang edentulous. Periksa daerah perlekatan frenulum, dan daerah2daerah tempat yang akan dijadikan retensi untuk GTSL.
6. Tunggu sampai bahan cetak mengeras, dan keluarkan dari mulut pasien,
7. Hasil cetakan dicuci di bawah air mengalir, perhatikan apakah hasil cetakan sudah memenuhi syarat cetakan yang baik.

     f. Evaluasi hasil cetakan:
1. Mencakup seuruh gigi, daerah linggir dan jaringan lunak harus jelas tercetak.
    Batas cetakan
RA  Posterior : Mencakup Fovea Palatine ke arah posterior sampai AH Line.
       Lateral : Meliputi Hamular Notch Batas Cetakan
 RB  Posterior : Retromolar pad
        Lateral : Linggir Oblique bagian luar dan menyempit ke arah bawah sebagai frenulum bukalis.
        Seluruh linggir alveolus sampai dasar mulut (dalam keadaan istirahat).
2. Pinggiran cetakan harus membulat kea rah perekatan otot.
3. Tidak ada geembung-gelembung udara atau sobekan atau lubang.
4. Dasar sendok cetak tidak boleh nampak.


c. Model Cetak Anatomis
    1. Hasil cetakan anatomis diisi dengan dental stone.
    2. Setelah keras, hasil cetakan dikeluarkan dan didapatkan model anatomis dan kemudian ditanam dalam basis.


d. Desain Perawatan
    • Perencanaan Desain
- Klasifikasi (Kennedy) : Klas I Modifikasi 2
- Penentuan dukungan : Gigi dan mukosa
- Penentuan gigi penyangga : 13 23 35 33 45

RA: Diametrik
RB: Segitiga

- Penentuan cangkolan/desain cangkolan : Tipe pengungkit Klas II

   a. Letak cangkolan
• Pada permukaan bukal→ dibagi atas 4 kuadran, kuadran II dan IV berada dekat bagian edentulus→ cangkolan melalui 3 kuadran yaitu I, III dan IV→ untuk mendapatkan retensi yang benar.
• Lengan retentive= pada bagian bukal, terbagi pada 2 bagian yaitu retensi dan bracing
   o Retensi: terletak di bawah garis survei
   o Bracing: diatas garis survei
   o Panjang retensi= Panjang bracing
• Lengan resiprokal= pada bagian palatal/ lingual, berada diatas garis survei
• Dukungan (oklusal rest) = pada permukaan oklusal disebelah dista/mesial gigi penyangga.

  b. Desain cangkolan Desain cangkolan pada kasus rahang atas yaitu:
• Pada gigi13 dan 23 :berjalan dari arah mesial ke distal Pada kasus rahang bawah yaitu:
• Pada gigi 33 : cangkolan berjalan dari arah distal ke mesial
• Pada gigi 35 : cangkolan berjalan dari arah mesial ke distal
• Pada gigi 45 : cangkolan berjalan dari arah mesial ke distal Survei :


 e. Sendok Cetak Fisiologis
     1. Pembuatan Sendok Cetak Fisiologis
 Pembuatan outline pada model anatomis untuk batas sendok cetak fisiologis dengan pensil biru di daerah forniks (batas mukosa bergerak dan tidak bergerak) pada daerah edentulous. Dengan pensil merah 2 mm di atas garis biru sebagai batas pembuatan wax (spacer) pada daerah edentulous dan di daerah prominensia pada daerah bergigi.
 Lapis 1 lembar wax  di atas model anatomis tebal 1-2 mm sebagai spacer (tempat bahan cetak) sampai garis merah.
 Pembuatan stopper berbentuk persegi panjang (4-5 mm) di daerah molar dan kaninus kanan dan kiri untuk tahanan vertikal.
 Aduk resin akrilik, lalu masukkan ke stopper dan ratakan di atas wax ± 2 mm
 Buat tangkai sendok cetak di bagian anterior  posisi tidak mengganggu bibir saat memasukkna sendok cetak ke dalam mulut dan tidak mengganggu proses muscle trimming.
 Rapikan dan haluskan sendok cetak dan bagian tepinya tidak melewati garis merah.
   
    2. Uji Coba Sendok Cetak Fisiologis
- Mencobakan sendok cetak ke mulut pasien.
- Perhatikan hal berikut:  Sendok cetak harus mencakup jaringan pembatas GTSL.
                                      Permukaan labial dan bukal harus lebih pendek 1-2 mm dari forniks.
                                      Berkontak rapat dengan mukosa jaringan pendukungnya.

    3. Pembuatan Muscle Trimming (Border molding)
Proses yang diakukan untuk mendapatkan batas anatomi struktur pembatas gigi tiruan yang lebih akurat. Tepi sendok cetak harus lebih pendek 1-2 mm dari batas tepi jaringan yang harus dicetak.
• Tujuan muscle trimming : - Untuk mendapatkan anatomis struktur pembatas GTSL yang lebih akurat.
                                        - Pembentukkan sekitar rongga mulut sehingga dapat terbentuk seal yang baik.
• Prosedur muscle trimming:
    Pastikan terlebih dahulu tepi sendok cetak harus lebih pendek 1-2 mm dari batas tepi mukosa yang akan dicetak.
    Modeling compound (Green Kerr) dipanaskan dan dietakkan di tepi sendok cetak secara bertahap, didinginkan sedikit demi sedikit sebelum dimasukkan ke mulut.

• Border molding pada RA:
 Labial : Bibir atas diturunkan ke bawah
 Frenulum labial : Bibir atas diturunkan ke bawah
 Bukal : Tarik pipi ke bawah, ke depan, dan ke belakang
 Bukal posterior : Tarik pipi ke bawah, ke depan, dan ke belakang
 Frenulum bukal : Tarik pipi ke arah luar, bawah, belakang, dan depan.
 Belakang palatum : Pasien diinstruksikan untuk mengucapkan kata “Ah”

• Border molding pada RB:
 Labial : Bibir bawah ditarik ke atas dan memijatnya
 Frenulum labial : Bibir bawah ditarik ke atas
 Bukal : Pegang pipi dengan ibu jari dan jari telunjuk, tarik pipi ke atas dan lakukan gerakan pemijatan.
 Anterior lingual : Pasien diinstruksikan untuk menjulurkan lidah ke arah gagang sendok cetak dan diinstruksikan untuk menjilat bibir atas dari sisi ke sisi.
 Disto lingual : Pasien diinstruksikan untuk menjulurkan lidah ke arah pipi yang berlawanan.

• Evaluasi hasil border molding
 Antara wax dengan Green Kerr tidak terdapat step.
 Terlihat adanya guratan otot.
 Sendok cetak semakin cekat seteah dilakukan muscle trimming.
 Permukaan Green Kerr harus berwarna suram (dove) yang berarti sudah terjadi kontak rapat antara Green Kerr dengan mukosa.

     4. Pembuatan Retensi pada Sendok Cetak Fisiologis
 Lapisan wax bagian dalam sendok cetak dilepas.
 Sendok cetak dilubangi dengan round bur, jarak tiap lubang 4-5 mm, lubang tidak boleh dibuat pada daerah palatum dan di atas linggir alveolaris untuk mengalirkan bahan cetak yang berlebih pada saat pencetakan. Jika tidak dibuat lubang, maka bahan cetak yang berlebih akan menyebabkan tekanan yang berlebih pada jaringan pendukung gigi tiruan.


f. Pencetakan Fisiologis
i. Metode fungsional: kombinasi antara metode mukostatis dan mukokompresi
ii. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan kompresibilitas antara jaringan mukosa dengan gigi.
iii. Teknik mukokompresi untuk daerah tidak bergigi dengan bahan cetak silikon atau polieter, dan teknik mukostatis untuk daerah bergigi dengan bahan cetak hidrokoloid irreversible.
iv. Penggunaan teknik pencetakan mukofungsional: Dengan teknik mukokompresi yang disesuaikan dengan kemampuan jaringan menerima beban (mukofungsional) jaringan lunak alveolaris berada di bawah penekanan, sehingga pada waktu tekanan pengunyahan hanya sedikit terjadi pergerakan dari jaringan lunak hingga dapat mengurangi efek torsi gigi penyangga.
v. Tujuan cetak fisiologis:
    1. Mengetahui arah pasang dan lepas yang tepat
    2. Dukungan pada gigi penyangga lebih akurat
    3. Stabilisasi pada gigi penyangga lebih baik
    4. Retensi Pada rahang atas, pencetakan fisiologis menggunakan bahan cetak elastomer untuk                           memperoleh hasil cetakan yang akurat.


g. Surveying
 Tujuan Survei Model:
     i. Menentukan lingkaran terbesar dari gigi penyangga untuk menentukan posisi cangkolan yang tepat
     ii. Menentukan permukaan gigi dan jaringan lunak yang perlu diblocking out yang akan menggangu pasang dan lepas gigitiruan
    iii. Mengindentifikasi permukaan proksimal gigi agar dapat dibuat sejajar sehingga dapat bertindak sebagai guiding plane atau menentukan dataran petunjuk sehingga dapat dipasang dengan mudah
    iv. Mengukur derajat undercut pada gigi penyangga
     v. Menentu arah pasang dan lepas terbaik
     vi. Mencatat posisi model berhubung arah pasang dan lepas

h. Cara membuat Shellac dan Oklusal Rim:
• RA dan RB : Basis shellac dipanaskan dan ditekan sampai rata, dibuang yang berlebih. Oklusal rim diletakkan pada basis tersebut di daerah proccesus alveolaris yang tidak bergigi setinggi dataran oklusal.

• Guna oklusal rim: o Untuk menemukan dataran oklusal dan relasi vertikal
                              o Tempat penyusunan gigi
                              o Mengembalikan profil pasien

• Faktor yang harus diperhatikan:
 Oklusal rim RA dan RB harus berkontak bidang.
 Inklinasi anterior RA lebih ke labial
 Pada posisi istirahat, oklusal rim terlihat 2 mm


i. Pembuatan klammer
Tentukan garis survey yang benar dan untuk mendesain letak cangkolan yang tepat


j. Perluasan Basis
    a. Rahang Atas:
• Bila gigi posterior tidak ada, basis diperluas menutupi palatum sampai ke tuberositas dan hamular notch.
• Bagian posterior sampai ke batas mukosa bergerak dan tidak bergerak.
• Bagian bukal sampai tidak mengganggu pergerakan frenulum
     b. Rahang Bawah:
• Pada basis dukungan jaringan, perluasan menutupi retromolar pad dan meluas ke lateral sampai sulkus bukalis.
• Bagian distolingual meluas dari retro molar pad ke sulkus alveolingual.
• Batas sayap lingual tergantung dari anatomi linggir milohyoid.
• Bila linggir tajam, maka sayap berakhir pada puncak linggir milohioid.
• Bila linggir tidak tajam, sayap dapat diperluas sampai sulkus alveolingual


k. Pemasangan ke Artikulator


l. Pemilihan Anasir gigitiruan
Pemiihananasirgigitiruan posterior:
    i. Ukuran Gigi:
       • Mesio distal Pada kasus basis berujung bebas, ukuan mesio distal diukur dari tepi distal gigi yang berdekatan dengan edentulus sampai mesial dari retromolar pad
       • Okluso gingival Ditentukan oleh besarnya ruangan inter oklusal. Panjang anasir gigitiruan disesuaikan dengan gigi tetangga terutama gigi premolar.
       • Buko lingual/palatal Disesuaikan dengan lebar mesio distalnya sehingga bentuk sebanding, tetapi pada kasus linggir alveolus datar diperlukan ukuran oklusal yang sempit untuk mengurangi daya kunyah yang besar dan memberi tempat pada lidah.
     
     ii. Bentuk: • Gigi Anatomik Pemilihan anasir gigi tiruan anterior
                     • Pemilihan anasir gigitiruan:
                         Mesiodistal yang kecil
                         Bukolingual yang sempit dibandingkan dengan gigi asli agar daya yang diterima oleh jaringan pendukung lebih kecil.


m. Pasang percobaan
• Hal yang dilihat:
 Warna
 Bentuk
 Oklusi
 Estetik


n. Pemasangan GTSL
    a. Adaptasi basis gigitiruan pada mukosa
    b. Retention masuk ke daerah gerong serta terletak tepat pada tempatnya
    c. Oklusal rest berkontak rapat pada permukaan oklusal gigi sandaran
    d. Tahanan gigitiruan tidak boleh samai menyebabkan gigi sandaran terasa sakit
    e. Oklusi dan artikulasi rapat
    f. Letak cangkolan harus tepat
    g. Hal yang diperhatikan sewaktu pasca pemasangan:
        - Pada gigi asli:
           • Kebersihan mulut dan gigi baik
           • Pemeriksaan gigi asli berkaitan karies, mobility, dan jaringan pendukung
            • Jaringan lunak yang ditutupi gigitiruan berkaitan inflamasi akibat iritasi
        - Pada gigitiruan
            • Kebersihan gigitiruan
            • Retensi
            •  Oklusi dan artikulasi

Jumat, 14 Februari 2014

Coass Life: Pasien

Kali ini kita akan membahas tentang tipe-tipe pasien berdasarkan sumber dia datang.
1. Pasien bawa sendiri
2. Pasien calo
3. Pasien klinik

Dimulai dari pasien bawa sendiri, udah jelaslah ya, pasien tipe ini biasanya kita yang bawa atau cari sendiri. Bisa karena kita yang cari-cari pasien, atau orang sekitar kita yang memang minta dirawat sama kita. Jadi pasien itu udah kita kenal sebelumnya, dan kelebihannya sebelum kita bawa ke klinik udah tau kira-kira apa kelainan giginya dan apa rencana perawatan yang akan kita lakukan. Kekurangannya kalo dia orang yang kurang kooperatif, walaupun udah kenal pun sebelumnya jangan harap bisa jadi kooperatif, juga kalau kita sempat gagal atau ada lah kesalahan yang kita lakukan, pasti beban moralnya gede banget tuh, bukan kalo pasien lain kita gak ada beban moral, tapi kebayang gak sih kalo yang kalian rawat itu pacar atau gebetan, atau sodara kalian sendiri terus misalnya tambalan kalian berantakan kayak ubi, atau pasca ekstraksi bibirnya jadi kena ulcer dimana-mana, baahhh... tiap liat wajahnya yang manyun liat muka kita gara-gara gak puas sama perawatan kita pasti bisa bikin kita down lagi dan lagi.

Yang kedua pasien calo, kalo udah ada kata calo, udah pasti artinya perantara. Jadi pasien tipe ini nantinya dicariin dianter jemput sama pasien. Kelebihannya, gak perlu capek nyari-nyari pasien sampe keliling dunia. Cukup duduk, terus sms, telpon, atau bbman sama si calo, pesen deh pasien apa yang kita mau. Kekurangannya, duit abis, kere, kantong kering, dan pasien yang dia bawa rata-rata money oriented, jarang mereka mengerti kepentingan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya, yang penting kalo dia rajin gosok gigi dapet duit aja. Atau kadang-kadang si calo salah bawa pasien, yaiyalah kita aja kadang2kadang bingung sama diagnosa si pasien, apalagi si calo???!

Nah yang ketiga pasien klinik. Rata-rata pasien datang ke klinik rumah sakit pendidikan karena dia udah merasa sakit, pengen dapet perawatan yang murah atau gratis, atau karena rujukan dari rumah sakit tapi biasanya ini pasien dokter, atau udah pernah di rawat di rsgmp dan merasa puas jadi pengen balik lg ke situ deh. Kelebihannya, biasa si pasien mau bayar sendiri,  lah wong dia juga dateng sendiri kan, terus ada juga yang kooperatif karena kan dia datang karena emang mau dirawat. Kekurangannya adalah, selamat buat yang dapat pasien klinik yang kasusnya aneh-aneh, yang susah didiagnosa atau susah buat rencana perawatannya. Kaya gue nih udah keberapa kali dapat pasien klinik yang bikin gue musti puter otak mikirin kebutuhan pasien dan mikirin jumlah waktu yang gue butuhkan untuk ngerawat dia dan kira-kira nasib minreq gue kaya gimana. Dan percaya gak percaya pasien tipe ini semakin lo hindarin semakin sering dia datang. Wkwk. Semakin lo kejar dan lo bilang, bu besok dateng lagi ya bu, kemungkinan dia besok malah gak dateng, males bolak balik. Pernah gue ampe ngarepin pasien kaga balik ke gue malah. Soalnya dia semalam sebelumnya baru ke dokter gigi buat dirawat, eh besoknya dia dateng ke gue. Kenape coba tuh? Kan bikin gue makin ciut, takut salah diagnosa lah, takut gara-gara ngurusin dia gue gak kelar di bagian mana.
 Tapi kan kalo dipikir-pikir lagi, kita mana bisa nantinya milih-milih pasien yang mau bakalan dateng ke praktek kita, pokoknya pasien yang datang ketempat kita musti lah kita rawat. Sama kayak sekarang, kalau mau aman ya lari aja. Tapi kalau mau mikir demi pembelajaran ya musti kita yang rawat atau minimal tanya-tanya dosen lah.
Haaaa... feel so confused

Selasa, 11 Februari 2014

Coass Life: Yaudahlah Ya.

Dalam masa koas, salah satu kata yang sering terucap adalah, "Yaudahlah ya" atau "Duh.."
Kata pertama mengekspresikan sikap pasrah terhadap apa yang akan terjadi. Kata yang kedua menggambarkan kekhawatiran.
Sadar gak sadar, dalam satu hari, pasti adaaaa aja kata-kata itu keluar.
Kadang-kadang bisa karena ntah itu pasien lah, rencana perawatan lah, atau dosen, kita bener-bener merasa takut.
Gue sendiri heran, kenapa bisa jadi orang yang penakut berat kaya gini.
Mau masukin pasien, takut.
Mau nemuin dosen, takut.
Ada pasien, bingung. Gak ada pasien, nangis.
Gak bisa buat RP galau, pas bikin RP galau juga.
Heran sendiri deh. ini hidup kok kaya gini banget yaaakkk....
Ngapa-ngapain aja gak tenang.
Sebenernya, apa sih yang gue kejar? Apa sih yang mau gue kerjain?
Apa aja bingung.
Terakhir kalau udah galau, bawaannya jadi ngungkit-ngungkit masa lalu, langsung deh keluar kata, "Coba kalau..." atau "If only..."
Itu terus, "Coba kalau kemaren gue masukin pasien, Coba kemaren pasien gue bisa dateng sendiri, Coba kemaren gue kerjanya cepet, Coba kemaren gue pinter make waktu, dan lain sebagainya."
Alhasil, karena udah kecapekan mikir, setre, galau, sampailah pada satu kesimpulan. "Yaudahlah ya,"
"Yaudahlah ya, merepet merepetlah situ, toh mau cepat atau lambat bakalan kena repet juga."
"Yaudahlah ya, gak minreq emang udah nasib, kan masih ada taon depan buat ngulang lagi."
"Yaudahlah ya, pasien gak bisa dateng, besok mungkin dia bisa dateng :( "
Aaaaa.... Jujur desperado banget.
Kenapa jadi dokter gigi itu berat banget ya. Ada aja ujian dan batu2 kerikil tajam atau malah batu besar yang ngehalangin dan buat perjalanan gak mulus.
Dan lucunya, hal kayak gini tuh banyak dialami atau malah dialami oleh semua koas. Mau dia anak dosen, mau dia banyak duit dan bisa pake jasa calo pasien, mau dia pinter banget, mau dia dewa banget ngerjain pasien, pasti ada aja masalahnya.
kenapaaaa???

Yaudahlah ya, kan gak mesti juga aku nangis-nangis sambil garuk tembok di pojokan gara-gara semua ini.


Selasa, 07 Januari 2014

Coass Life: Life is Never Flat

Setelah koas, aku tau kalau hidup itu gak bisa diprediksi.
Kaya ujan. Walaupun di ramalan cuaca bilang hari ini cerah, eh tau tau ujan deres dari siang nyampeee malam.
Atau malah sebaliknya. Udah siap-siap bawa payung, berat, eehhh..... cerah.
YA gitu deh.
Udah capek nyari pasien sana sini gak taunya gak minreq lah, pasien gak mau kontrollah, atau sengaja nungguin temen, gak taunya malah temen kita yang duluan kelar.. alamakkk...
Jadi mulai sekarang, harus mulai semangat! musti majuuuu!!!!! Mau temen malas, mau temen rajin, musti caooooo... Good Luck!!!
\

Senin, 18 November 2013

Coass Life: Korban PHP

Scene 1
Roma:    "Kapan kak bisa datang?"
Pasien:    "Besok kak."
besoknya....(sambil sterilisasi alat tiba-tiba sms masuk)
Pasien:   "Kak, maaf baru ngabari, aku gak bisa datang hari ini. Lusa lah ya."
Roma:    "Oke."
Dua hari kemudian.....
Pasien:    "Kak, aku datang jam 8 ya."
Tiga jam kemudian....
Pasien:    "Kak.. aku lupa bawa ktp, jadi gak bisa daftar."
Roma:     "Hmm.. oke lah " (menangis dalam hati)


Scene 2
Pasien:  "Rom, abang datang jumat ya"
Roma:  "Oke bang. Kabari aja nanti kalo udah datang ."
Pasien:  "Paling lama jam tengah 9 abang datang."
Jumat.....(Roma datang jam 8 siap2kan alat)
Jam 9kurang....
Pasien:  "Dek, abang kerja, senin lah ya."
Roma:   "Gak bisa bang, sabtu lah ya."
Pasien:  "Abang ada rapat dek,Senin ya."
Roma:   "Gak bisa bang. Kamis lah."
Pasien:  "Oke bang."
Rabu.....
Pasien:  "Dek, abang kerja jam 10. Jam 2 lah cabut giginya ya."
Roma:   "Klinik dah tutup baaaanggg....."


Dan masih banyaaaakkkk lagiiii...



Kamis, 07 November 2013

Coass Life: Ini Masih Awal

Pasien kedua, dengan kasus gigi 37 nekrose pulpa. Giginya sudah rapuh, dan pasien takut untuk ke dokter gigi. Bahkan ketika di OD pun, ketika sonde masuk mulutnya dia sudah merasa ngeri.

Kumotivasi lah dia supaya berani dicabut giginya. Eeeehhh... ternyata diakhirnya giginya fraktur, :(((
Belum lagi dia tidak mau dikeluarkan lagi giginya. Coba lah.... aku benar kepikiran, karena sisa akar tersebut kan harus dikeluarkan. hiksss....

Rasanya butuh seseorang untuk bercerita. Rasanya butuh seseorang untuk bersandar. Rasanya butuh seseorang yang dengan pedenya bilang samaku, "semua akan baik-baik saja." Rasanya butuh seseorang untuk menepuk kepalaku. Rasanya butuh seseorang yang bisa membantuku melewati masalah ini.

AAAA.... ada pasien pun jadi takut megangnya, takut fraktur. Tapi kalo gak ada pasien, galauuuuu gak ada kerja.

Benar-benar perjuangan yang namanya belajar ini bah. Karena koass yang kita hadapi adalah manusia. Bagaimana kita memotivasi pasien, bagaimana kita harus menghadapi pasien dengan bersahaja. Bagaimana kita harus bijaksana dan benar-benar melakukan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan pasien, dan bukan karena sekedar memenuhi minreq. Dan bagaimana dengan melalui profesi dokter gigi nantinya, aku bisa mengabdikan diriku untuk orang banyak.

Ini masih awal, Roma! Kau tidak boleh menyerah. Kau harus semangat dan percaya, setiap masalah pasti ada penyelesaiaannya. Pasienmu, dosenmu, ketakutan2 dan kekhawatiranmu, ataupun masalah biaya dan pengaturan jadwal, dan manajemen pikiranmu!

Dan yang gak kalah penting lagi, harus semakin banyak belajar. Tidak boleh malas. Dan selalu setiap hari harus ada ilmu baru yang kamu dapat. Berdoa juga, karena Tuhan yang akan memampukan segalanya. Amin.


Sabtu, 02 November 2013

Coass Life : Welcome,nak!

Halohaloaloooooooo.......
Sebelum curcol ttg koas aku mau ngasih tau kalo aku udah wisuda SKG. hihi....
Dan sekarang udah mulai koas, dan rasanya wow banget.

Tempat pertama aku koas adalah di BM alias BedahMulut. Ada lah yang agak kaget melihat keberanian siklus kami yang langsung milih BM untuk tempat pertama koas.

Ohya di BM yang dikerjakan adalah pencabutan gigi dan bedah mulut minor atau bedah mulut sederhana, seperti alveolektomi, pengambilan fraktur terbuka, dan odontektomi.

Nah, kemarin itu adalah kasus pertamaku. Kasus pencabutan pertamaku yang rasanya kayak pasien ujian. >.< Karena kasusnya memang seperti minreg ujian. Yaitu kasus nekrose pulpa elemen gigi 46, dimana gigi tetangganya yaitu gigi 44 dan 46 nya masih bagus.

Jadi ceritanya, pasien pertama perempuanku ini gak tau dia adalah orang pertama yang kucabut giginya dan orang kedua yag kusuntik (orang pertama yang kuanestesi adalah partnerku sendiri) Aaaa.... bisa teman bayangkan waktu dia bertanya, "Tapi kaka udah sering lah ya cabut gigi?" Dan aku cuma bisa diam sambil senyam senyum,. hahaha *

Prosedur pertama yang kulakukan adalah persiapan alat, bahan, operator, pasien, termasuk tindakan asepsis intraoral juga pemeriksaan TD pasien. Setelah itu kuanestesi pake blok mandibula dan kuplexus dibagian bukal, dan kutambah sedikit di bagian lingual. Untuk blok mandibula aku pakai 2cc phcaine, dan plexus satu ampul.

Waktu mau anestesi blok mandibula bener-bener deg-degan parah, apalagi kemaren pengalaman pertama ngeblok agak kurang enak. Masa pas aku mau aspirasi ternyata jarumku nyangkut di sarung tangan, *geleng-geleng, untung itu masih belajar. Nah, yang kemarin ini, udah galau banget tuh. Suntik enggak, suntik enggak. Yaudahlah, kusuntiklah sesuai prosedur. Pertama-tama diraba dulu krista buccinatoria dan retromolarnya, terus dari arah berlawanan kusuntik, lalu jarum diluruskan, terus jarum dimasukkan hingga ke daerah gembur, dan asli, kemaren baru aku ngerasain sensasi taktil ke daerah gembur itu, terus aspirasi, dan Puji Tuhan gak ada darah, berarti jarumnya gak kena arteri, terus aku deponir deh. Nah, kemarin kan waktu belajar anestesi, aku terasa kebas setelah sekitar 5menitan tuh, Puji Tuhan si pasien juga begitu, jadi untuk anestesi pertamaku ini berhasil :))

Nah, berhubung kurang persiapan, dan kemarin sempet DBD, jadi waktu belajar entah kenapa agak ngehang lah aku, jadi waktu ngebein, kubein lah searah aksial gigi, kucoba rotasi. Tapi kok gak goyang-goyang juga. Lalu datanglah Mike ngasih tau untuk masukkin bein dari arah mesial. Kulakukan, tapi kok gak goyang-goyang juga ya, terus datanglah Acel membantu juga, dan akhirnya dengan bantuan Acel, aku melihat bifurkasinya. Nah, ternyata giginya anomali, jadi rasio mahkota akar kan biasanya 1:2, eh ini 1:1, jadinya memang bifurkasinya jauh kali. Sumpah ya aku dah sempat putus asa, kok gak goyang-goyang juga giginya. Tapi, pas dah kuliat bifurkasinya, langsunglah kuungkit (Berikutnya kata Acel gigi posterior itu diungkit, bukan di rotasi), kuungkit lah dengan santai. Terus datang si Chris bilang, udah luksasi aja pake tang!. Kucoba luksasi dikit, agak goyang lah.

Berikutnya, aku benar-benar bekerja sendiri. Kubein daerah bifurkasi, kuluksasi lagi pake tang, Terakhir giginya goyang juga,dan Puji Tuhan, anestesinya masih bertahan, jadi kubein dikit lagi, terus kuluksasi dan kutarik pake tang. And you know what? Kar giginya ada 3. Bagus sekali anomalinya. Masa akar yang biasanya 2 ini malah 3. Krik Krik Krik.... Setelah itu aku, dan teman-teman disitu cuma bisa bilang, pantesan susah keluarnya. Wong desain tang umtuk gigi molar bawah kan aja untuk bifurkasi, eh gigi si kawan malah trifurkasi. Pasien pun waktu giginya udah keluar minta liat giginya, dan dia bilang "Kok besar kali gigiku ya kak" "Iya dek, ini kan karena ada akarnya juga, kan kalo dimulut cuma mahkota aja yang nampak".

Terus kuperhatikan akarnya, Puji Tuhan gak fraktur, terus kuasepsis, kumassage gingiva, dan karena kulihat disoket gak ada tulang yang tajam, gak kubonefile (sebelumnya waktu dimassage juga teraba tidak tajam), lalu kuletakkan tampon dan kuberi instruksi pasca pencabutan. Terus kukasih nomorku, dan kubilang kalo berikutnya ada keluhan atau sakit untuk kasih tau ke aku.

Untungnya pasien pertamaku sangat koperatif :)) Bahkan dia mau bayar, tapi karna gak ada kembalian, aku yang bayarin, itung-itung pasien pertama.haha. Si pasien sampe merasa gak enak sendiri, tapi gak mungkin lah kukasih tau dia adalah pasien pertama, ntar jadi ragu pula dia. haha. Semoga pencabutan berikutnya aku bisa lebih tenang dan gak pake dibantu orang lain lagi, Yooooo...haha