Tuhan, aku percaya. Semua yang kualami, saat ini, masalahku, keluh kesahku, air mataku, semuanya ya, Tuhan, Kau melihat dan peduli.
Tuhan. Aku sedang merasa hancur. Segala usaha yang kulakukan, gagal ya Tuhan.
Kata-kata tidak progres dan tidak lulus membayangiku dan membuatku jatuh dan sedih.
Kini aku berserah ya Tuhan.
Baik progres dan tidak progres.
Baik lulus dan tidak lulus.
Kau tetaplah Allah kami yang dahsyat. Kau tetaplah Allah kami yang ajaib, yang mengetahui segala perkara dan pergumulan kami.
Satu pintaku Tuhan, kiranya kuatkanlah aku beserta keluargaku sampai masa bahagia itu akan tiba. Jagalah hati dan pikiran kami agar tetap setia padaMu ya Allah kami yang hidup.
Biarlah aku menangis, biarlah aku jatuh. Tapi untuk kali ini saja. Tapi untuk hari ini saja. Besok adalah haru yang baru lagi. Besok adalah kesempatan yang baru lagi, dan aku harus lebih semangat dan setia mengerjakan.
Filipi 4:13 (TB) Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Total Tayangan Halaman
Tampilkan postingan dengan label koas gigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koas gigi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Juni 2016
Senin, 07 Maret 2016
Coass Life: Pasien Kompre Pedodontia
Pedo artinya anak, pedodontia artinya ilmu kedokteran gigi anak. Jadi minreq kompre pedodontia adalah pasien anak yang wajib dirawat seluruh kelainan dalam rongga mulutnya.
Nah ini adalah foto sebelum dan sesudah pasien saya:
Setiap orang punya kesulitan masing-masing, keberuntungan masing-masing, dan berusaha dengan caranya masing-masing.
Dan buat saya, luar biasa sekali bisa menyelesaikan pasien kompre seperti ini.
Pasien anak laki-laki berusia 7 tahun, dengan keadaan hampir seluruh giginya mengalami karies dan tinggal radiks.
Pada kunjungan pertama saya melakukan pemeriksaan berupa anamnesa, pemeriksaan subjektif, pemeriksaan objektif, dan foto ronsen untuk gigi yang berlubang, serta pencetakan rahang atas dan rahang bawah setelah ditentukan diagnosa dan rencana perawatan. Pembacaan hasil foto ronsen dilakukan untuk melihat kedalaman karies, keadaan akar, serta pembentukan dan posisi benih gigi permanen. Pada kasus ini ada tiga gigi yang karies mencapai pulpa, dua gigi direncanakan dilakukan pulpotomi vital dan pulpotomi non vital, satu gigi lagi pada awalnya didiagnosa direncanakan untuk pulpektomi, namun karna pada jalannya perwatan gigi goyang, perawatan yang dilakukan adalah ekso atau pencabutan. Untuk semua gigi yang dilakukan perawatan dilakukan restorasi akhir berupa ssc atau stainless steel crown.
Pada kunjungan pertama saya hanya melakukan pemeriksaan dengan tujuan untuk mengenalkan anak pada keadaan ruang praktek, supaya pasien merasa nyaman dan percaya dengan dokter, sehingga pasien dapat menerima perawatan dengan baik.
Pada kunjungan berikutnya saya melakukan penambalan gigi dengan bahan restorasi gic, dengan pertimbangan untuk mengenalkan pasien pada proses perawatan gigi, namun dengan waktu yang singkat.
Pada kunjungan ketiga, saya melakukan pencabutan pada radiks yang sebenarnya sudah mobiliti, namun tetap saya lakukan anestesi, walau jujur tidak sampai menyentuh tulang, dengan tujuan supaya pasien tau bagaimana proses anestesi dan tidak takut dengan spuit atau karpul atau jarum suntik.
Nah, setelah itu, baru perawatan pulpotomi dan ekso atau pendidikan gigi yang masih berupa elemen dapat dilakukan, karena pasien tidak akan setakut pertama kali dilakukan perawatan.
Total perawatan yang saya lakukan pada anak tersebut ialah pulpotomi vital dan pulpotomi non vital dengan restorasi akhir berupa stainless steel crown, penambalan gigi dengan amalgam filling, gic filling, dan preventive resin restoration, serta space maintainer dengan pertimbangan gigi susu telah dicabut karena berupa radiks(akar) atau sudah mobiliti(goyang).
Nah ini adalah foto sebelum dan sesudah pasien saya:
Setiap orang punya kesulitan masing-masing, keberuntungan masing-masing, dan berusaha dengan caranya masing-masing.
Dan buat saya, luar biasa sekali bisa menyelesaikan pasien kompre seperti ini.
Pasien anak laki-laki berusia 7 tahun, dengan keadaan hampir seluruh giginya mengalami karies dan tinggal radiks.
Pada kunjungan pertama saya melakukan pemeriksaan berupa anamnesa, pemeriksaan subjektif, pemeriksaan objektif, dan foto ronsen untuk gigi yang berlubang, serta pencetakan rahang atas dan rahang bawah setelah ditentukan diagnosa dan rencana perawatan. Pembacaan hasil foto ronsen dilakukan untuk melihat kedalaman karies, keadaan akar, serta pembentukan dan posisi benih gigi permanen. Pada kasus ini ada tiga gigi yang karies mencapai pulpa, dua gigi direncanakan dilakukan pulpotomi vital dan pulpotomi non vital, satu gigi lagi pada awalnya didiagnosa direncanakan untuk pulpektomi, namun karna pada jalannya perwatan gigi goyang, perawatan yang dilakukan adalah ekso atau pencabutan. Untuk semua gigi yang dilakukan perawatan dilakukan restorasi akhir berupa ssc atau stainless steel crown.
Pada kunjungan pertama saya hanya melakukan pemeriksaan dengan tujuan untuk mengenalkan anak pada keadaan ruang praktek, supaya pasien merasa nyaman dan percaya dengan dokter, sehingga pasien dapat menerima perawatan dengan baik.
Pada kunjungan berikutnya saya melakukan penambalan gigi dengan bahan restorasi gic, dengan pertimbangan untuk mengenalkan pasien pada proses perawatan gigi, namun dengan waktu yang singkat.
Pada kunjungan ketiga, saya melakukan pencabutan pada radiks yang sebenarnya sudah mobiliti, namun tetap saya lakukan anestesi, walau jujur tidak sampai menyentuh tulang, dengan tujuan supaya pasien tau bagaimana proses anestesi dan tidak takut dengan spuit atau karpul atau jarum suntik.
Nah, setelah itu, baru perawatan pulpotomi dan ekso atau pendidikan gigi yang masih berupa elemen dapat dilakukan, karena pasien tidak akan setakut pertama kali dilakukan perawatan.
Total perawatan yang saya lakukan pada anak tersebut ialah pulpotomi vital dan pulpotomi non vital dengan restorasi akhir berupa stainless steel crown, penambalan gigi dengan amalgam filling, gic filling, dan preventive resin restoration, serta space maintainer dengan pertimbangan gigi susu telah dicabut karena berupa radiks(akar) atau sudah mobiliti(goyang).
Seperti yang bisa dilihat pada foto, ada dua gigi dengan karies namun tidak saya lakukan tindakan dengan pertimbangan usia pasien 7 tahun dan umumnya pada umur tersebut gigi permanen akan tumbuh, dan diharapkan gigi dapat menjadi space maintainer alami sehingga gigi permanen dapat tumbuh pada lengkungnya.
Demikianlah pengalaman tiga bulan saya di klinik pedodonsia rsgmp fkg usu, dan ohya. Masih ada kasus saya yang belum selesai, jadi tolong bantu saya dalam doa, supaya segera melewatkan department ini dengan baik.
God bless us.
God loves us.
Rabu, 20 Januari 2016
Coass Life : Pasien Pedo
#kisahpasienpedo
"Buka mulutnya dek"
"Aaaa, dek."
"Dek yang besarlah buka mulutnya, coba masuk gak dua jarimu ke mulutmu? Apa lagi jari kaka kan dek?"
"Dek... Dek, Aaa lah dek, buka mulutnya yang besar."
Alhasil si koas kesel, si pasien rupanya lebih kesal, lalu....
"Aaa!" Teriak pasien.
Si koas cuma bisa nyeletuk, "Dek,mulutnya yang dibuka lebar, bukan suaranya yang makin keras."
Lalu si koas jadi ketawa sendiri.
#koasgigi #koasgigimulaisinting #siapasuruhmasukfkg#sendirisusahsendirirasa
"Buka mulutnya dek"
"Aaaa, dek."
"Dek yang besarlah buka mulutnya, coba masuk gak dua jarimu ke mulutmu? Apa lagi jari kaka kan dek?"
"Dek... Dek, Aaa lah dek, buka mulutnya yang besar."
Alhasil si koas kesel, si pasien rupanya lebih kesal, lalu....
"Aaa!" Teriak pasien.
Si koas cuma bisa nyeletuk, "Dek,mulutnya yang dibuka lebar, bukan suaranya yang makin keras."
Lalu si koas jadi ketawa sendiri.
#koasgigi #koasgigimulaisinting #siapasuruhmasukfkg#sendirisusahsendirirasa
Selasa, 16 Juni 2015
Gigi Tiruan Cekat
ILMU GIGI TIRUAN CEKAT
Ilmu gigi tiruan cekat adalah ilmu yang mempelajari perawatan untuk memperbaiki/menggantikan sebagian atau seluruh gigi asli yang rusak atau hilang sengan suatu restorasi berupa mahkota tiruan atau gigi tiruan jembatan yang dilekatkan secara permanen didalam mulut.
Berdasarkan prinsip perawatan dalam bidang prostodonsia, yaitu rehabilitasi system stomatognatik , maka tujuan perawatan dengan gigi tiruan cekat, adalah memperbaiki :
- Fungsi pengunyahan
- Fungsi Estetis
- Fungsi bicara
- Keadaan lokal (dalam mulut) dan kesehatan umum
- Rasa nyaman
- Rasa percaya diri
Macam gigi tiruan cekat :
1. Mahkota tiruan (Artificial crown/Full crown)
Adalah restorasi yang menggantikan sebagian atau seluruh bagian jaringan mahkota gigi yang sudah rusak/hilang, dipasang secara pemanen dengan semen.
Berdasarkan banyaknya jaringan permukaan mahkota gigi atau jaringan mahkota gigi yang digantikan, maka dibedakan atas :
- Mahkota tiruan penuh (Full Veneer Crown)
- Mahkota tiruan sebagian (Partial Veneer Crown)
- Mahkota tiruan pasak (Dowel/Post and Core Crown)
2. Gigi tiruan jembatan (Bridge work)
Adalah restorasi (gigi tiruan) yang menggantikan kehilangan 1 atau lebih gigi geligi asli, dilekatkan secara permanent dengan semen serta didukung sepenuhnya oleh satu atau lebih gigi atau akar gigi atau implant yang telah dipersiapkan.
Macam-macam gigi tiruan jembatan :
1. Gigi tiruan jembatan konvensional
a. Rigid Fixed Bridge
Gigi tiruan jembatan yang menggantikan kehilangan 1 atau lebih gigi yang berurutan, didukung oleh 1 atau lebih gigi penyangga pada masing-masing ujung diastema, dan dalam pemakaiannya tidak ada pergerakan individual dari gigi penyangga.
Indikasi :
– Untuk kehilangan 1-4 gigi secara berurutan
– Pada tekanan kunyah yang normal atau besar
– Gigi penyangga yang pendek
– Salah satu gigi penyangga goyang derajat 1 (tanpa kelainan periodontal atau paska terapi periodontal)
- Pada gigi molar maupun premolar yang mudah karies, dimana beban pengunyahan besar, maka dipilih agar diperoleh retensi yang maksimum
Keuntungan :
– Indikasi terluas
– Memiliki efek splinting terbaik
- Tidak mudah lepas.
- Dapat melindungi gigi dari karies.
- Preparasi, pencetakan, pembuatan dan penyemenan mudah.Syarat khusus :
– Gigi penyangga baik posisi dan inklinasinya harus sejajar atau bila vital dapat dibuat sejajar tanpa membahayakan pulpa (misalnya salah satu gigi penyangga miring 15-200)
- Tidak mudah mengalami distorsi di bawah tekanan daya kunyah
b. Semi Rigid Fixed Bridge
Fixed bridge yang menggantikan kehilangan 1 atau 2 gigi didukung oleh satu atau lebih gigi-gigi penyangga pada tiap ujung diastema dan memberikan pergerakan individual terbatas pada gigi penyangganya pada waktu berfungsi.
c. Cantilever Bridge
Merupakan fixed bridge yang menggantikan kehilangan 1 gigi dan didukung oleh satu atau lebih gigi penyangga hanya pada satu sisi saja.
d. Kombinasi Bridge
Bridge yang terdiri dari beberapa macam fixed bridge yang disatukan.
e. Modifikasi Bridge
Merupakan fixed bridge yang dimodifikasi karena keadaan tertentu.
2. Gigi tiruan jembatan ‘sophisticated’
- Implant Bridge
- Adhesive Bridge (Maryland Bridge)
Jenis Retainer : Retainer ekstrakoronal
Alasan: Retainer yang dipakai adalah retainer ekstrakoronal dimana retainer berada diluar bidang mahkota gigi karena pada kasus ini akan menggunakan mahkota logam berlapis porselen.
Kelebihan Extra Coronal Retainer :
Sanggup menerima beban pengunyahan yang besar
Mudah dibuat
Retainer adalah bagian dari jembatan yang menjangkarkan jembatan ke gigi penyangga. Jenis jenis retainer antara lain:
Intra koronal retainer : terletak di dalam bagian mahkota gigi.
Ekstra koronal retainer : terletak di luar bagian mahkota gigi
Intra radikular retainer : diindikasikan untuk gigi non vital setelah perawatan endodontik (mahkota pasak).
Jenis yang dipilih adalah retainer ekstra koronal, karena terletak diluar bagian mahkota gigi.
- Tipe dasar pontik : Sanitary pontic
Ada 5 tipe pontik yaitu :
Sanitary Pontik : permukaan dasar tidak kontak dengan linggir alveolus
Indikasi : Gigi Premolar dan Molar RB
Spheroidal Pontik : mirip dengan Sanitary Pontik tapi dasarnya kontak dengan
linggir alveolus.
Indikasi : RB anterior
3. Ridge Lap Pontik : bagian labial berkontak dan bagian palatal menjauhi linggir alveolus.
Indikasi : RA anterior dan posterior
4. Saddle Pontik : modifikasi Ridge Lap Pontik tapi dasar pontik yang kontak dengan linggir alveolus lebih luas.
Indikasi : RA anterior
5. Conical Root Pontik : dasar pontik masuk sekitar 2 mm dalam socket gigi yang baru dicabut.
Indikasi : Jembatan, immediate
Jenis-Jenis GTJ
- Fixed-fixed bridge atau GTJ Lekat
- Semi-fixed (Fixed-Movable) bridge atau GTJ setengah lekat
- Cantilever (Swing On) bridge atau GTJ lekat sebelah
- Spring Cantilever bridge atau GTJ konektor panjang.
- Compound Bridge
- Adhesive Bridge
Fixed-Fixed Bridge
- Konektor kaku pada kedua ujung pontik, minimal 3 unit.
- Anterior atau posterior, RA atau RB
GTJ Lekat anterior:
- > gigi tetangga rotasi atau kelainan posisi.
- > gigitan palatum
- > berhub dgn fungsi bicara.
- > tipe retainer: mahkota penuh, pasak, mahkota sebagian.
- > Jenis pontik: Saddle pontik
- > Bahan: all porcelain, kombinasi
GTJ Lekat Posterior
- > Tipe retainer: mahkota penuh, uplay, mahkota sebagian, inlay.
- > Tipe pontik: Saddle Pontic, Sanitary Pontic.
Fixed Moveable (semi fixed) Bridge/ GTJ setengah lekat
Salah satu pontik dihubungkan pd retainer dgn konektor non rigid, sedangkan yang satunya dihubungkan dengan konektor rigid.
Keuntungan:
- Dapat mengatasi kesulitan melakukan insersi.
- Tidak mengganggu pergerakan individual gigi penyangga.
- Efek stress breaker.
Indikasi:
- salah satu gigi penyangga miring.
- terdapat pier abutment.
Regio anterior:
indikasi: kehilangan Incisivus lateral RA, salah satu penyangga dirawat endo.
Retainer: mayor (mhkt pigura,mhkta ¾), minor (inlay klass III, mhkt pigura, mhkta Selberg).
Regio posterior
indikasi: Tekanan kunyah ringan, kehilangan tidak lebih dari 1, salah satu penyangga miring.
Retainer: Mayor (mhkta penuh, mhkta 4/5), Minor (mhkta penuh, mhkta sebagian, inlay klas II).
Cantilever Bridge (GTJ Lekat Sebelah)/Swing on Bridge
Salah satu sisi pontik dihubungkan oleh konektor rigid, sedangkan sisi yg lainnya melayang.
Keuntungan:
- > Desain sederhana
- > tidak mengalami kesulitan insersi
- > pekerjaan klinik dan lab tidak lama
- > tidak membuang jaringan sehat terlalu banyak
- > estetik memuaskan
Indikasi:
> Terutama kehilangan gigi anterior, dgn keadaan sbb:
- * Tekanan kunyah yang ringan
- * Ruang anodonsia kurang
- * gigi tetangga malposisi
> Menggantikan P1 dengan penyangga P2 dan M1 pada RA/RB
• Retainer: mhkt penuh, mhkt sebagian, pin-lay crown.
Spring Cantilever Bridge (GTJ Konektor Panjang)
- Konektor panjang, retainer terletak jauh dari pontik.
- Kehilangan gigi anterior, dengan penyangga gigi posterior.
- Bersifat pegas
Indikasi:
> kehilangan gigi anterior
- * gigi tetangga lemah
- * multiple diastema anterior
- * tekanan kunyah ringan
Kontra indikasi:
- > kehilangan gigi depan lebih dari satu
- > deep bite
- > bentuk palatum yg kurang menguntungkan
Keuntungan:
- > estetik memuaskan
- > angka rata2 kegagalan rendah
- > mudah memperbaiki pontik, tanpa membongkar semua komponen GTJ.
Tipe pontik: Jacket Pontik
Bentuk konektor: konektor panjang dgn jarak thd mukosa 0,2-0,4mm
Retainer: mahkota pigura, mahkota 4/5
Compound Bridge (GTJ Gabungan)
- Menyederhanakan suatu kompleks GTJ menjadi 2 GTJ sederhana.
- Memperkecil kemuungkinan terjadinya kegagalan.
- Tidak mengorbankan gigi sehat terlalu banyak.
- Memudahkan melakukan insersi
Adhesive Bridge
• Kekuatan retensi pada:
- > ikatan resin thd enamel
- > daya kohesi resin
- > ikatan resin thd dasar logam
Indikasi:
- > kehilangan 1 atau tidak lebih dr 2 gigi, dengan tekana kunyah ringan.
- > servikal sempit (incisivus bawah)
- > Px tidak tahan duduk lama.
- > Px masih muda.
- > Gigi penyangga sejajar
Kontraindikasi:
- > tekanan kunyah besar
- > gigi dgn karies besar
- > kehilangan gigi lebih dr 2 unsur
- > gigi dgn cacat enamel
1. Preparasi gigi penyangga
Contoh kasus kehilangan gigi 36 sehingga gigi penyangga adalah gigi 35 dan 37. Menurut Hukum Ante: jumlah luas membrana periodontal dari gigi-gigi penyangga harus sama atau lebih besar dari jumlah luas membrana periodontal gigi yang diganti. Luas membrana periodontal diperkirakan dengan melihat rontgen foto.
Gigi 35 :
Anestesi lokal dengan menggunakan anastesi Articaine dengan adrenalin.
Buat depth guide dengan menggunakan bur silindris pada permukaan oklusal dengan kedalaman ± 1-1,5 mm.
Preparasi bidang oklusal dengan menggunakan bur silindris sebanyak 2 mm.
Preparasi bidang proksimal dengan menggunakan bur fisur secara hati hati. Kemudian bentuk konus dengan bur kerucut dan bentuk tepi akhiran servikal berbentuk shoulder.
Buat depth guide dengan menggunakan bur silindris pada permukaan bukal dan lingual dengan kedalaman ± 1-1,5 mm.
Preparasi bidang bukal dan lingual dengan menggunakan bur kerucut sebanyak 2 mm dan pembuatan akhiran servikal preparasi berbentuk shoulder pada bagian bukal dan berbentuk chamfer pada bagian lingual.
Bulatkan seluruh preparasi agar tidak ada bagian yang tajam.
Gigi 37 :
Anestesi lokal dengan menggunakan anastesi Articaine dengan adrenalin.
Buat depth guide dengan menggunakan bur silindris pada permukaan oklusal dengan kedalaman ± 1-1,5 mm.
Preparasi bidang oklusal dengan menggunakan bur silindris sebanyak 2 mm.
Preparasi bidang proksimal dengan menggunakan bur fisur secara hati hati. Kemudian bentuk konus dengan bur kerucut dan bentuk tepi akhiran servikal berbentuk shoulder.
Buat depth guide dengan menggunakan bur silindris pada permukaan bukal dan lingual dengan kedalaman ± 1-1,5 mm.
Preparasi bidang bukal dan lingual dengan menggunakan bur kerucut sebanyak 2 mm dan pembuatan akhiran servikal preparasi berbentuk shoulder pada bagian bukal dan berbentuk chamfer pada bagian lingual.
Bulatkan seluruh preparasi agar tidak ada bagian yang tajam.
Macam-Macam Bentuk Akhiran Servikal
1. Flat Shoulder (900)
Bentuk akhiran ini diindikasikan pada bagian labial gigi anterior
rahang atas dan rahang bawah serta gigi posterior rahang atas.
Bentuk ini kontraindikasi pada gigi yang kecil dan pada pasien muda.
2. Shoulder beveled
Bentuk ini diindikasikan pada gigi posterior mandibula atau untuk permukaan gigi yang tidak mementingkan estetis. Diindikasikan
untuk mahkota berlapis porselain.
3. Sloped shoulder (chamfer)
Bentuk ini diindikasikan untuk permukaan gigi bagian lingual atau palatal mahkota logam keramik dan mahkota logam.
4. Chisel edge
Bentuk ini diindikasikan untuk preparasi
permukaan proksimal atau lingual.
5. Shoulderless (knife edge)
Bentuk ini lebih sering diindikasikan pada gigi yang kecil.
Knife edge juga digunakan pada bagian proksimal
gigi yang miring untuk menghindari terkenanya pulpa
di proksimal. Diindikasikan untuk mahkota pelapis sebagian
dan mahkota penuh dari logam pada gigi posterior.
2. Retraksi Gingiva
Retraksi gingiva yaitu suatu tindakan membuka tepi gusi ke arah lateral dari tepi preparasi, tujuannya agar sewaktu mencetak fisiologis, bahan cetak dapat masuk ke dalam sulkus gingiva sehingga daerah step/ servikal preparasi dapat tercetak dengan akurat.
Macam-macam retraksi gingiva:
Secara mekanis
Mahkota sementara yang berisi gutta-percha lunak diletakkan pada gigi yang telah dipreparasi.
Gutta-percha yang berlebih akan keluar dan mendorong gingiva ke lateral.
Mahkota dilepaskan dari gigi dan gutta-percha yang berlebih dirapikan
Bila dipasang ke gigi yang dipreparasi akan mendorong gusi secara baik.
Mahkota sementara dipasang pada gigi yang telah dipasang selama 12 jam.
Secara kemis
Serat-serat kapas dipintal ke dalam larutan tawas
Kemudian serat tersebut dikeringkan.
Masukkan ke dalam sulkus gingiva selama kurang lebih 10 menit.
Tepi gingiva akan retraksi.
Secara kemis-mekanis
Benang yang telah diukur sepanjang keliling gigi kemudian dipotong.
Benang dicelupkan ke dalam adrenalin.
Benang dimasukkan ke dalam sulkus gingiva selama 5-10 menit.
Akan terjadi vasokontriksi sehingga gingiva retraksi.
Kelebihan:
- Vasokonstiktif
- Hemostatis
Kekurangan:
- Efek sistemik: sindrom epinephrine
- Resiko nekrosis jaringan
- Resiko inflamasi gingiva
- Hiperemia rebound
Secara bedah
Dengan menggunakan elektroda (electrode surgery), dinding gingiva dibuang sedikit sehingga gingiva terbuka.
Pada pekerjaan klinik dilakukan: secara kemis mekanis, yaitu:
Persiapan daerah retraksi
Pengukuran benang retraksi pada penyangga
Merendam benang retraksi dalam larutan adrenalin
Penempatan benang retraksi ke dalam sulkus gingiva ±10 menit
Pengambilan benang retraksi dari dalam sulkus gingiva
3. Cetakan fisiologis
Pembuatan Sendok Cetak Fisiologis
- Lapisi model anatomis dengan wax setebal 2-3 mm untuk spacer (tempat bahan cetak).
- Beri stopper di tempat yang tidak dipreparasi untuk ruang bahan cetak.
- Lapisi bahan separasi.
- Aduk akrilik, letakkan diatas wax dengan ketebalan 1-2 mm.
- Bentuk tangkai sendok cetak.
- Setelah keras, lepas sendok cetak dari model.
- Bebaskan wax.
- Pinggir sedok cetak dihaluskan dengan bur.
Bahan cetak yang dipakai untuk cetakan fisiologis adalah : Putty Wash
Teknik pencetakan : pencetakan two step technique.
Pada pencetakan ini, bahan putty dicetakkan pertama sekali ke seluruh gigi termasuk gigi penyangga yang dipreparasi. Setelah bahan putty mengeras atau setting, benang retraksi diletakkan di gigi penyangga dan ditunggu beberapa saat untuk retraksi gingiva. Kemudian benang retraksi dicabut dan bahan wash dicetakkan ke gigi penyangga agar bahan wash mengisi tepi akhiran servikal gigi penyangga
4. Pembuatan mahkota sementara
Self curing acrilic: mahkota dan jembatan
Teknik tidak langsung:
Cetak gigi penyangga yang telah dipreparasi dengan menggunakan alginat kemudian diisi dengan dental stone.
Selanjutnya cetak kembali model anatomis yang belum dipreparasi dengan alginate.
Aduk akrilik sampai homogen dan tuangkan ke dalam cetakan alginate.
Masukkan cetakan dental stone ke dalam model dengan gigi yang telah dipreparasi, tekan dengan tekanan yang cukup.
Tunggu sampai akrilik mengeras sempurna.
Lepaskan cetakan.
Lakukan pemolisan.
Keuntungan pembuatan mahkota sementara dengan teknik tidak langsung:
Lebih aman terhadap gigi karena menghindari adanya rasa ngilu dan rasa panas sewaktu akrilik mulai mengeras terhadap gigi yang telah dipreparasi.
5. PEMILIHAN WARNA GIGI
Vita 3D shade guide, diperhatikan value, chroma, dan hue. Pada pasien warna gigi menunjukkan hasil A3.
6. Passen coping
- Model fisiologis dikirim ke Laboratorium Uji FKG USU untuk pembuatan coping.
- Sesudah coping dibuat, coping dipassenkan pada gigi penyangga sebelum dibuat jembatan porselen. Hal yang harus diperhatikan:
1. Pemeriksaan coping apakah sesuai dengan path of insertion (arah pasang)
2. Pemeriksaan batas akhiran servikal preparasi
3. Pemeriksaan jarak oklusal dan ketebalan bagian bukal dan palatal untuk menilai tempat porselen
- Apabila coping sudah pas dan tidak ada traumatik oklusi, coping dikirim kembali ke Laboratorium Uji FKG USU untuk dilakukan sandblasting dengan alumina oxide yang berfungsi untuk membersihkan bahan coping yang kemudian dibuat porselen.
7. Pasang sementara GTC
Jembatan porselen yang telah di-glazing dipasang uji selama satu minggu untuk mengevaluasi kedudukan dan reaksi rongga mulut terhadap GTC.
Pemeriksaan kontur dan anatomis
Pemeriksaan adanya traumatik oklusi
Try in atau pasang percobaan GTC dengan sementasi menggunakan zinc oxide eugenol selama 1 minggu.
Yang harus diperhatikan adalah :
Kontak proksimal antara GTC dengan gigi sebelahnya
Pemeriksaan pada tepi GTC tidak boleh menekan gingiva
Retensi
Kemampuan GTC untuk melawan gaya pemindah yang cenderung memindahkan gigi tiruan kearah oklusal.
Cara mengecek retensi gigi tiruan adalah dengan cara: memasang gigi tiruan tersebut ke dalam mulut pasien. Jika tidak mempunyai retensi maka gigi tiruan tersebut akan terlepas setelah dipasang, namun jika tidak terlepas berarti gigi tiruan tersebut sudah mempunyai retensi.
Stabilisasi
Merupakan perlawanan atau ketahanan GTC terhadap gaya yang menyebabkan perpindahan tempat atau gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan berfungsi, misal pada mastikasi.
Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan dengan cara: menekan bagian gigi tiruan secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergerakan pada saat tes ini.
Oklusi
Pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral dan anteroposterior.
Caranya dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan di antara gigi atas dan bawah, kemudian pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi diangkat dan dilakukan pemeriksaan oklusal gigi
Pada keadaan normal terlihat warna yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila terlihat warna yang tidak merata pada oklusal gigi maka terjadi traumatik oklusi oleh karena itu dilakukan pengurangan pada gigi yang bersangkutan dengan metode selective grinding.
Pengecekan oklusi ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi.
8. Pasang tetap GTC
Satu minggu setelah pemasangan sementara GTC dilakukan evaluasi secara klinis dan subjektif untuk melihat apakah ada keluhan rasa sakit, inflamasi atau traumatik oklusi.
GTC dibuka dan sisa-sisa semen sementara dibersihkan.
Dilakukan pasang tetap GTC dengan glass ionomer cement.
Satu minggu kemudian dilakukan kontrol untuk melihat GTC, jaringan lunak disekitar GTC dan apakah ada keluhan terhadap hasil pemasangan GTC
Kontrol dan Pemeliharaan GTC
Kontrol dilakukan satu minggu setelah pemasangan tetap. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat kontrol :
Pemeriksaan Subjektif
Pemeriksaan Objektif
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan objektif :
Oral Hygiene
Oklusi
Inflamasi Perkusi dan Palpasi
Pemeliharaan GTC :
Konsumsi makanan yang berserat dan tidak terlalu keras
Cara menyikat gigi yang benar dan pembersihan daerah GTC dengan dental floss
Kontrol secara periodik.
Label:
bridge,
Gtc,
Kedokteran gigi,
koas gigi,
pontik,
preparasi gigi penyangga,
prostodonsia,
retainer
Senin, 04 Mei 2015
Minimal Requirement
Ah. Semua kasus minreq ini membuatku lelah.
Semua departemen yang harus kuulang ini membuatku ingin menyerah.
Kapan aku jadi drg? Kapaaaaaannnn?
Aku merasa terhimpit melihat satu persatu teman-temanku lulus meninggalkanku. hikss..
Semua departemen yang harus kuulang ini membuatku ingin menyerah.
Kapan aku jadi drg? Kapaaaaaannnn?
Aku merasa terhimpit melihat satu persatu teman-temanku lulus meninggalkanku. hikss..
Minggu, 03 Mei 2015
Kapalku Laju dan Tenggelam
Ketika kapalku mulai goyah dan mengikuti kemana angin membawaku.
Ketika kapalku mulai karam, dan aku membuang sebagian muatanku.
Ketika kapalku tidak melaju, dan aku membiarkan diriku menuruni kapalku dan mendorongnya sampai ke dataran.
Lalu apalagi gunanya kapal tanpa pengemudi? Apa gunanya dia melaju bila tak dapat menyebrangkan barang bawaan?
Dan akhirnya kapalku tenggelam, seiring semakin tenggelamnya diriku bersama ombak yang menenggelamkanku.
Ketika kapalku mulai karam, dan aku membuang sebagian muatanku.
Ketika kapalku tidak melaju, dan aku membiarkan diriku menuruni kapalku dan mendorongnya sampai ke dataran.
Lalu apalagi gunanya kapal tanpa pengemudi? Apa gunanya dia melaju bila tak dapat menyebrangkan barang bawaan?
Dan akhirnya kapalku tenggelam, seiring semakin tenggelamnya diriku bersama ombak yang menenggelamkanku.
Jumat, 20 Maret 2015
Coass Life: Koas Pedo
Ini kisah tentang anak koas yang menghadapi anak-anak.
Menghadapi anak-anak dengan segala keterbatasan dan segala keluarbiasaan mereka merupakan suatu hal yang unik.
Saya suka bicara dengan mereka, bermain,bercanda, atau sekedar mendengar celotehan mereka. Karena, hey, siapa sih yang belum pernah jadi anak-anak?
Setelah kita dewasa biasanya kita menyadari betapa berharganya masa itu,dan betapa berwarnanya imajinasi dan hidup kita.
Tapi, entah mengapa anak-anak bisa berubah layaknya superhero yang dalam beberapa detik dapat berubah karena suatu keadaan: perawatan gigi anak.
Sudah 8minggu saya berada di klinik gigi anak atau pedodonsia. Dan minimal requirement belum juga tepenuhi. Dari 6 anak yang saya Oral Diagnosa hanya 3 yang berhasil ditanda tangani dosen.
Menghadapi anak-anak dengan segala keterbatasan dan segala keluarbiasaan mereka merupakan suatu hal yang unik.
Saya suka bicara dengan mereka, bermain,bercanda, atau sekedar mendengar celotehan mereka. Karena, hey, siapa sih yang belum pernah jadi anak-anak?
Setelah kita dewasa biasanya kita menyadari betapa berharganya masa itu,dan betapa berwarnanya imajinasi dan hidup kita.
Tapi, entah mengapa anak-anak bisa berubah layaknya superhero yang dalam beberapa detik dapat berubah karena suatu keadaan: perawatan gigi anak.
Sudah 8minggu saya berada di klinik gigi anak atau pedodonsia. Dan minimal requirement belum juga tepenuhi. Dari 6 anak yang saya Oral Diagnosa hanya 3 yang berhasil ditanda tangani dosen.
Sabtu, 29 November 2014
Coas Life: Hei Anak Koas!! Mari Berpikir Positif dan Menjadi Manusia yang Cerdas Emosional
Koas adaah suatu proses yang (seharusnya, dan semoga) menjadi tahap yang lebih singkat daripada perkuliahan. Tetapi tantangan dalam koas lebih berat, dan saya sadar setiap orang dibentuk ditempat ini.
Kamu bisa berakhir tragis, menjadi biasa-biasa aja, atau menjadi luar biasa.
Akan tetapi, setiap orang juga akan menilai berbeda tentang koas.
Ada yang begitu berambisi untuk menjadi cepat tamat, ada yang menjalaninya hanya sebagai rutinitas, ada yang menggapnya sebagai batu loncatan untuk menggapai gelar dokter gigi secepatnya, dan ada yang menganggapnya sebagai sebuah proses hidup yang berharga dan harus dijalani dengan cara yang berharga pula.
Dalam koas kita akan bertemu dengan sangat beragam tipe orang. Mulai dari berbagai sifat dosen, ada yang galak, ada yang pemarah, emosian, gampang sensi, ada yang seperti ibu peri, malaikat, atau juga yang bersikap seperti ibu sendiri, sebagai teman, sahabat, atau benar-benar pengajar, dan ada juga yang mungkin sebenarnya tidak tahu cara mengajar yang tepat, atau malah tidak ingin mengajar (sekali lagi, mungkin).
Kita juga akan bertemu dengan berbagai tipe teman koas, mulai dari yang sangat optimis, pesimis, pemalas, tidak pedulian, mudah marah, sensitif, penggosip, cuek, misterius, baik, tukang tipu, tukang pakai calo, si jarang masuk koas, si perfeksionis, dan yang ingin cepat-cepat tamat.
Termasuk juga pasien, ada yang bawel, resek, curigaan, baik, pengertian, genit, gatel, suka ngasih makanan, suka mintain duit, php, atau yang kerajinan datang.
Dan, ada juga dirimu sendiri.
Bagaimana dirimu menyikapi semua ini?
Akankah dirimu menjadi orang yang akan menyerah di tengah perjalanan? Akankah kau mengganggap koas hanya seperti tempat persinggahan dalam hidupmu, sehingga melalaikan nilai-nilai dan norma yang benar?
Saya memilih menjalani koas ini dengan bermakna.
Di tengah ramainya calo, atau magang (walaupun blm punya str atau sip), dan kerja asal-asalan atau manipulasi, sejauh ini saya berusaha untuk tidak melakukan itu semua.
Dalam nama Tuhan Yesus, Dia akan memberikan saya pasien dan kesempatan untuk lulus tanpa memakai calo.
Dalam nama Tuhan Yesus, saya yakin keuangan saya akan tercukupi dan kemampuan atau skill saya tidak akan mengecewakan pasien saya nantinya meskipun saya tidak ikut-ikutan magang, dan skill saya selama di tempat koas akan mencukupi perbekalan saya dalam menghadapi dunia kerja nantinya.
Dan saya berjanji, akan melayani pasien saya dengan sebaik-baiknya. Saya akan berusaha, seburuk apapun hari yang telah kujalani, saya akan menyambut pasien saya dengan senyum sapa. Tidak hanya dengan tindakan medis, perilaku kita yang ramah dan sopan akan mengobati pasien secara tidak langsung.
Selama koas ini, saya belajar bukan hanya ilmu dan keterampilan, tetapi bagaimana menjadi dokter gigi yang benar-benar berintegritas dan memuaskan bagi pasien.
Kamu bisa berakhir tragis, menjadi biasa-biasa aja, atau menjadi luar biasa.
Akan tetapi, setiap orang juga akan menilai berbeda tentang koas.
Ada yang begitu berambisi untuk menjadi cepat tamat, ada yang menjalaninya hanya sebagai rutinitas, ada yang menggapnya sebagai batu loncatan untuk menggapai gelar dokter gigi secepatnya, dan ada yang menganggapnya sebagai sebuah proses hidup yang berharga dan harus dijalani dengan cara yang berharga pula.
Dalam koas kita akan bertemu dengan sangat beragam tipe orang. Mulai dari berbagai sifat dosen, ada yang galak, ada yang pemarah, emosian, gampang sensi, ada yang seperti ibu peri, malaikat, atau juga yang bersikap seperti ibu sendiri, sebagai teman, sahabat, atau benar-benar pengajar, dan ada juga yang mungkin sebenarnya tidak tahu cara mengajar yang tepat, atau malah tidak ingin mengajar (sekali lagi, mungkin).
Kita juga akan bertemu dengan berbagai tipe teman koas, mulai dari yang sangat optimis, pesimis, pemalas, tidak pedulian, mudah marah, sensitif, penggosip, cuek, misterius, baik, tukang tipu, tukang pakai calo, si jarang masuk koas, si perfeksionis, dan yang ingin cepat-cepat tamat.
Termasuk juga pasien, ada yang bawel, resek, curigaan, baik, pengertian, genit, gatel, suka ngasih makanan, suka mintain duit, php, atau yang kerajinan datang.
Dan, ada juga dirimu sendiri.
Bagaimana dirimu menyikapi semua ini?
Akankah dirimu menjadi orang yang akan menyerah di tengah perjalanan? Akankah kau mengganggap koas hanya seperti tempat persinggahan dalam hidupmu, sehingga melalaikan nilai-nilai dan norma yang benar?
Saya memilih menjalani koas ini dengan bermakna.
Di tengah ramainya calo, atau magang (walaupun blm punya str atau sip), dan kerja asal-asalan atau manipulasi, sejauh ini saya berusaha untuk tidak melakukan itu semua.
Dalam nama Tuhan Yesus, Dia akan memberikan saya pasien dan kesempatan untuk lulus tanpa memakai calo.
Dalam nama Tuhan Yesus, saya yakin keuangan saya akan tercukupi dan kemampuan atau skill saya tidak akan mengecewakan pasien saya nantinya meskipun saya tidak ikut-ikutan magang, dan skill saya selama di tempat koas akan mencukupi perbekalan saya dalam menghadapi dunia kerja nantinya.
Dan saya berjanji, akan melayani pasien saya dengan sebaik-baiknya. Saya akan berusaha, seburuk apapun hari yang telah kujalani, saya akan menyambut pasien saya dengan senyum sapa. Tidak hanya dengan tindakan medis, perilaku kita yang ramah dan sopan akan mengobati pasien secara tidak langsung.
Selama koas ini, saya belajar bukan hanya ilmu dan keterampilan, tetapi bagaimana menjadi dokter gigi yang benar-benar berintegritas dan memuaskan bagi pasien.
Minggu, 09 November 2014
Contoh Rencana Perawatan Kasus Gigi Tiruan Sebagian Lengkap berbasis Resin Akrilik
RENCANA PERAWATAN
GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN
I. IDENTITAS PASIEN
Nomor Status :
Nama Pasien : S******
Umur : 61 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku/Bangsa : Jawa/WNI
Alamat : Jalan ************ Medan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. HP : *************
II. DIAGNOSIS PASIEN
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan umum’
c. Pemeriksaan lokal
d. Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan ingin membuat gigi palsu atas dan bawah karena pasien telah kehilangan gigi belakang dan beberapa gigi depan, pasien mengeluhkan sulit untuk mengenyah. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, pasien mengatakan belum pernah memakai gigi tiruan.
b. Pemeriksaan Umum
1. Penyakit sistemik/penyakit infeksi : Hipertensi
2. Kebiasaan jelek : Tidak ada
3. Pernah memakai gigi tiruan :
a. Rahang atas : tidak b. Rahang bawah : tidak
4. Sikap mental pasien : Filosofis
c. Pemeriksaan Lokal
1. Ekstra Oral
a. Wajah Depan : Oval Samping : Cembung
b. Bibir : Normal
c. Mata : Tidak Bergerak
d. Sendi temporo mandibular : Normal
2. Intra Oral
a. Status Gigi : Gigi yang masih ada 13 11 23 21 35 33 32 31 41 42 43 45
b. Gigi yang hilang : Sebagian
c. Kelainan gigi : Mobiliti : Ada, gigi 31 dan 41
Malposisi : Ada, gigi 33 linguoversi gigi 45 mesioversi
Elongasi : Ada
Diastema : Ada
d. Oklusi (angle) : Klas.....
e. Derajat karies : Rendah
f. Oral higiene : Baik
g. Mukosa linggir aveloaris : Atas kanan : Normal Atas kiri : Normal Bawah kanan : Normal Bawah kiri : Normal
h. Linggir alveolaris : • Bentuk : - Mx. Ka: Tapering
- Mx. Ki: Ovoid
- Md. Ka: Knife edge
- Md. Ki: Knife edge
• Lengkung : Trapesium
• Relasi rahang : Normal
• Ruang antar linggir : 5mm
• Palatum : .......
• Torus palatinus : Rendah
• Posterior palatal seal : .........
• Lidah : Sedang
• Kondisi saliva : Kental
• Dasar : Dalam
d. Diagnosis :
RA : Klas I modifikasi 2 Kennedy
RB : Klas I modifikasi 2 Kennedy
III. RENCANA PERAWATAN
a. Perawatan Persiapan
• Tindakan Tanpa Bedah : Tidak perlu
• Tindakan Bedah : Tidak perlu
b. Pencetakan Anatomis
a. Tujuan : Untuk pembuatan sendok cetak fisiologis dan survey pendahuluan.
b. Bahan : Hydrocolloid Irreversible (alginate)
c. Bahan Pengisi : Dental stone tipe III
d. Pemilihan sendok cetak :
Menggunakan sendok cetak pabrik
Bagian permukaan sendok cetak persegi
Ukuran sendok cetak lebih besar 3-6 dibandingkan dengan linggir pasien.
Sendok cetak RA harus mencakup Hamular Notch dan Vibrating line
Sendok cetak RB harus mencakup Retromolar Pad dan Sulkus Aveolingual.
e. Cara mencetak :
1. Dudukkan pasien di denta unit dengan posisi badan yang tegak
2. Pilih sendok cetak yang sesuai dengan pasien.
3. Aduk bahan cetak dengan perbandingan 1:1 (alginate:air), aduk sampai homogen.
4. Masukkan bahan cetak ke sendok cetak secukupnya.
Pada RA : operator berdiri di sebelah belakang kanan pasien.
Pada RB : operator berdiri di sebelah kanan depan pasien.
5. Masukkan sendok cetak ke mulut pasien, dan dilakukan penekanan pada daerah yang edentulous. Periksa daerah perlekatan frenulum, dan daerah2daerah tempat yang akan dijadikan retensi untuk GTSL.
6. Tunggu sampai bahan cetak mengeras, dan keluarkan dari mulut pasien,
7. Hasil cetakan dicuci di bawah air mengalir, perhatikan apakah hasil cetakan sudah memenuhi syarat cetakan yang baik.
f. Evaluasi hasil cetakan:
1. Mencakup seuruh gigi, daerah linggir dan jaringan lunak harus jelas tercetak.
Batas cetakan
RA Posterior : Mencakup Fovea Palatine ke arah posterior sampai AH Line.
Lateral : Meliputi Hamular Notch Batas Cetakan
RB Posterior : Retromolar pad
Lateral : Linggir Oblique bagian luar dan menyempit ke arah bawah sebagai frenulum bukalis.
Seluruh linggir alveolus sampai dasar mulut (dalam keadaan istirahat).
2. Pinggiran cetakan harus membulat kea rah perekatan otot.
3. Tidak ada geembung-gelembung udara atau sobekan atau lubang.
4. Dasar sendok cetak tidak boleh nampak.
c. Model Cetak Anatomis
1. Hasil cetakan anatomis diisi dengan dental stone.
2. Setelah keras, hasil cetakan dikeluarkan dan didapatkan model anatomis dan kemudian ditanam dalam basis.
d. Desain Perawatan
• Perencanaan Desain
- Klasifikasi (Kennedy) : Klas I Modifikasi 2
- Penentuan dukungan : Gigi dan mukosa
- Penentuan gigi penyangga : 13 23 35 33 45
RA: Diametrik
RB: Segitiga
- Penentuan cangkolan/desain cangkolan : Tipe pengungkit Klas II
a. Letak cangkolan
• Pada permukaan bukal→ dibagi atas 4 kuadran, kuadran II dan IV berada dekat bagian edentulus→ cangkolan melalui 3 kuadran yaitu I, III dan IV→ untuk mendapatkan retensi yang benar.
• Lengan retentive= pada bagian bukal, terbagi pada 2 bagian yaitu retensi dan bracing
o Retensi: terletak di bawah garis survei
o Bracing: diatas garis survei
o Panjang retensi= Panjang bracing
• Lengan resiprokal= pada bagian palatal/ lingual, berada diatas garis survei
• Dukungan (oklusal rest) = pada permukaan oklusal disebelah dista/mesial gigi penyangga.
b. Desain cangkolan Desain cangkolan pada kasus rahang atas yaitu:
• Pada gigi13 dan 23 :berjalan dari arah mesial ke distal Pada kasus rahang bawah yaitu:
• Pada gigi 33 : cangkolan berjalan dari arah distal ke mesial
• Pada gigi 35 : cangkolan berjalan dari arah mesial ke distal
• Pada gigi 45 : cangkolan berjalan dari arah mesial ke distal Survei :
e. Sendok Cetak Fisiologis
1. Pembuatan Sendok Cetak Fisiologis
Pembuatan outline pada model anatomis untuk batas sendok cetak fisiologis dengan pensil biru di daerah forniks (batas mukosa bergerak dan tidak bergerak) pada daerah edentulous. Dengan pensil merah 2 mm di atas garis biru sebagai batas pembuatan wax (spacer) pada daerah edentulous dan di daerah prominensia pada daerah bergigi.
Lapis 1 lembar wax di atas model anatomis tebal 1-2 mm sebagai spacer (tempat bahan cetak) sampai garis merah.
Pembuatan stopper berbentuk persegi panjang (4-5 mm) di daerah molar dan kaninus kanan dan kiri untuk tahanan vertikal.
Aduk resin akrilik, lalu masukkan ke stopper dan ratakan di atas wax ± 2 mm
Buat tangkai sendok cetak di bagian anterior posisi tidak mengganggu bibir saat memasukkna sendok cetak ke dalam mulut dan tidak mengganggu proses muscle trimming.
Rapikan dan haluskan sendok cetak dan bagian tepinya tidak melewati garis merah.
2. Uji Coba Sendok Cetak Fisiologis
- Mencobakan sendok cetak ke mulut pasien.
- Perhatikan hal berikut: Sendok cetak harus mencakup jaringan pembatas GTSL.
Permukaan labial dan bukal harus lebih pendek 1-2 mm dari forniks.
Berkontak rapat dengan mukosa jaringan pendukungnya.
3. Pembuatan Muscle Trimming (Border molding)
Proses yang diakukan untuk mendapatkan batas anatomi struktur pembatas gigi tiruan yang lebih akurat. Tepi sendok cetak harus lebih pendek 1-2 mm dari batas tepi jaringan yang harus dicetak.
• Tujuan muscle trimming : - Untuk mendapatkan anatomis struktur pembatas GTSL yang lebih akurat.
- Pembentukkan sekitar rongga mulut sehingga dapat terbentuk seal yang baik.
• Prosedur muscle trimming:
Pastikan terlebih dahulu tepi sendok cetak harus lebih pendek 1-2 mm dari batas tepi mukosa yang akan dicetak.
Modeling compound (Green Kerr) dipanaskan dan dietakkan di tepi sendok cetak secara bertahap, didinginkan sedikit demi sedikit sebelum dimasukkan ke mulut.
• Border molding pada RA:
Labial : Bibir atas diturunkan ke bawah
Frenulum labial : Bibir atas diturunkan ke bawah
Bukal : Tarik pipi ke bawah, ke depan, dan ke belakang
Bukal posterior : Tarik pipi ke bawah, ke depan, dan ke belakang
Frenulum bukal : Tarik pipi ke arah luar, bawah, belakang, dan depan.
Belakang palatum : Pasien diinstruksikan untuk mengucapkan kata “Ah”
• Border molding pada RB:
Labial : Bibir bawah ditarik ke atas dan memijatnya
Frenulum labial : Bibir bawah ditarik ke atas
Bukal : Pegang pipi dengan ibu jari dan jari telunjuk, tarik pipi ke atas dan lakukan gerakan pemijatan.
Anterior lingual : Pasien diinstruksikan untuk menjulurkan lidah ke arah gagang sendok cetak dan diinstruksikan untuk menjilat bibir atas dari sisi ke sisi.
Disto lingual : Pasien diinstruksikan untuk menjulurkan lidah ke arah pipi yang berlawanan.
• Evaluasi hasil border molding
Antara wax dengan Green Kerr tidak terdapat step.
Terlihat adanya guratan otot.
Sendok cetak semakin cekat seteah dilakukan muscle trimming.
Permukaan Green Kerr harus berwarna suram (dove) yang berarti sudah terjadi kontak rapat antara Green Kerr dengan mukosa.
4. Pembuatan Retensi pada Sendok Cetak Fisiologis
Lapisan wax bagian dalam sendok cetak dilepas.
Sendok cetak dilubangi dengan round bur, jarak tiap lubang 4-5 mm, lubang tidak boleh dibuat pada daerah palatum dan di atas linggir alveolaris untuk mengalirkan bahan cetak yang berlebih pada saat pencetakan. Jika tidak dibuat lubang, maka bahan cetak yang berlebih akan menyebabkan tekanan yang berlebih pada jaringan pendukung gigi tiruan.
f. Pencetakan Fisiologis
i. Metode fungsional: kombinasi antara metode mukostatis dan mukokompresi
ii. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan kompresibilitas antara jaringan mukosa dengan gigi.
iii. Teknik mukokompresi untuk daerah tidak bergigi dengan bahan cetak silikon atau polieter, dan teknik mukostatis untuk daerah bergigi dengan bahan cetak hidrokoloid irreversible.
iv. Penggunaan teknik pencetakan mukofungsional: Dengan teknik mukokompresi yang disesuaikan dengan kemampuan jaringan menerima beban (mukofungsional) jaringan lunak alveolaris berada di bawah penekanan, sehingga pada waktu tekanan pengunyahan hanya sedikit terjadi pergerakan dari jaringan lunak hingga dapat mengurangi efek torsi gigi penyangga.
v. Tujuan cetak fisiologis:
1. Mengetahui arah pasang dan lepas yang tepat
2. Dukungan pada gigi penyangga lebih akurat
3. Stabilisasi pada gigi penyangga lebih baik
4. Retensi Pada rahang atas, pencetakan fisiologis menggunakan bahan cetak elastomer untuk memperoleh hasil cetakan yang akurat.
g. Surveying
Tujuan Survei Model:
i. Menentukan lingkaran terbesar dari gigi penyangga untuk menentukan posisi cangkolan yang tepat
ii. Menentukan permukaan gigi dan jaringan lunak yang perlu diblocking out yang akan menggangu pasang dan lepas gigitiruan
iii. Mengindentifikasi permukaan proksimal gigi agar dapat dibuat sejajar sehingga dapat bertindak sebagai guiding plane atau menentukan dataran petunjuk sehingga dapat dipasang dengan mudah
iv. Mengukur derajat undercut pada gigi penyangga
v. Menentu arah pasang dan lepas terbaik
vi. Mencatat posisi model berhubung arah pasang dan lepas
h. Cara membuat Shellac dan Oklusal Rim:
• RA dan RB : Basis shellac dipanaskan dan ditekan sampai rata, dibuang yang berlebih. Oklusal rim diletakkan pada basis tersebut di daerah proccesus alveolaris yang tidak bergigi setinggi dataran oklusal.
• Guna oklusal rim: o Untuk menemukan dataran oklusal dan relasi vertikal
o Tempat penyusunan gigi
o Mengembalikan profil pasien
• Faktor yang harus diperhatikan:
Oklusal rim RA dan RB harus berkontak bidang.
Inklinasi anterior RA lebih ke labial
Pada posisi istirahat, oklusal rim terlihat 2 mm
i. Pembuatan klammer
Tentukan garis survey yang benar dan untuk mendesain letak cangkolan yang tepat
j. Perluasan Basis
a. Rahang Atas:
• Bila gigi posterior tidak ada, basis diperluas menutupi palatum sampai ke tuberositas dan hamular notch.
• Bagian posterior sampai ke batas mukosa bergerak dan tidak bergerak.
• Bagian bukal sampai tidak mengganggu pergerakan frenulum
b. Rahang Bawah:
• Pada basis dukungan jaringan, perluasan menutupi retromolar pad dan meluas ke lateral sampai sulkus bukalis.
• Bagian distolingual meluas dari retro molar pad ke sulkus alveolingual.
• Batas sayap lingual tergantung dari anatomi linggir milohyoid.
• Bila linggir tajam, maka sayap berakhir pada puncak linggir milohioid.
• Bila linggir tidak tajam, sayap dapat diperluas sampai sulkus alveolingual
k. Pemasangan ke Artikulator
l. Pemilihan Anasir gigitiruan
Pemiihananasirgigitiruan posterior:
i. Ukuran Gigi:
• Mesio distal Pada kasus basis berujung bebas, ukuan mesio distal diukur dari tepi distal gigi yang berdekatan dengan edentulus sampai mesial dari retromolar pad
• Okluso gingival Ditentukan oleh besarnya ruangan inter oklusal. Panjang anasir gigitiruan disesuaikan dengan gigi tetangga terutama gigi premolar.
• Buko lingual/palatal Disesuaikan dengan lebar mesio distalnya sehingga bentuk sebanding, tetapi pada kasus linggir alveolus datar diperlukan ukuran oklusal yang sempit untuk mengurangi daya kunyah yang besar dan memberi tempat pada lidah.
ii. Bentuk: • Gigi Anatomik Pemilihan anasir gigi tiruan anterior
• Pemilihan anasir gigitiruan:
Mesiodistal yang kecil
Bukolingual yang sempit dibandingkan dengan gigi asli agar daya yang diterima oleh jaringan pendukung lebih kecil.
m. Pasang percobaan
• Hal yang dilihat:
Warna
Bentuk
Oklusi
Estetik
n. Pemasangan GTSL
a. Adaptasi basis gigitiruan pada mukosa
b. Retention masuk ke daerah gerong serta terletak tepat pada tempatnya
c. Oklusal rest berkontak rapat pada permukaan oklusal gigi sandaran
d. Tahanan gigitiruan tidak boleh samai menyebabkan gigi sandaran terasa sakit
e. Oklusi dan artikulasi rapat
f. Letak cangkolan harus tepat
g. Hal yang diperhatikan sewaktu pasca pemasangan:
- Pada gigi asli:
• Kebersihan mulut dan gigi baik
• Pemeriksaan gigi asli berkaitan karies, mobility, dan jaringan pendukung
• Jaringan lunak yang ditutupi gigitiruan berkaitan inflamasi akibat iritasi
- Pada gigitiruan
• Kebersihan gigitiruan
• Retensi
• Oklusi dan artikulasi
Langganan:
Postingan (Atom)




